Cahaya Malam
Di malam yang dingin, Caca duduk terdiam berpangku tangan di jendela kamarnya memandang bintang di langit. Rambutnya yang hitam legam lurus panjang, berterbangan di terpa angin malam. Di lubuk hati Caca, hanya satu impiannya. Yaitu mempunyai sayap dan terbang bebas di angkasa, menembus langit, bercengkrama dengan awan dan melihat bintang-bintang lebih dekat. Setiap Caca tidur, ia merasakan ada keajaiban di dalam kamarnya. Ia merasakan sentuhan sihir yang memenuhi kamarnya. Namun Sayangnya, setiap kali hal itu terjadi, mata Caca tak bisa terbuka. Ia sangat keheranan dengan hal itu. Terkadang ia melamun tentang hal itu. “Seandainya aku bisa melihat apa yang terjadi di kamarku setiap malam.” Harap Caca.
Mata Caca perlahan-lahan menutup. Caca merasa ngantuk. Akhirnya ia menutup jendela kamar tanpa menutup gordennya. Ia menunggu hal ajaib yang biasa ia rasakan. Ia tak peduli seberapa berantakan kamarnya, ia tetap bisa tertidur lelap. Tak lama kemudian, cahaya terang memenuhi kamarnya yang lumayan besar. Aroma sihir melewati hidungnya yang mancung. Sekali lagi Caca mencoba untuk bangun dari tidurnya. Tapi kekuatan sihir itu menahan matanya. Dan terdengar nyanyian “Nina Bobo” yang merdu. Caca kemudian terlelap dalam mimpi yang selalu indah.
Ayam tetangga sudah berkokok. Saatnya Caca bangun dan bersiap-siap untuk sekolah. Betapa semangatnya Caca pagi hari ini. Walau sedikit kecewa karena tidak bisa melihat kejadian ajaib itu lagi, tapi mimpi yang ia alami dalam tidur sangatlah indah. ia juga melihat kamar yang tadinya berantakkan, jadi rapih, serapih-rapihnya. Ah! Itu hal yang sudah biasa terjadi dalam kamarnya, “Pasti ini salah satu perbuatan sihir itu? Hmm… aku tak terkejut! Yang penting, aku sangat berterima kasih kepada seseorang yang telah merapihkan kamarku setiap malam.” Kata Caca. Ibu Caca sudah menyiapkan sarapan kesukaan Caca. Yaitu telur mata sapi. Caca adalah anak tunggal dari Bapak Syahyudi dan Ibu Rahmawati. Biasanya Caca di antar ayahnya sampai ke sekolah sebelum ayahnya hendak pergi kerja.
Sampai di sekolah, Caca mencari kelas 5B. yaitu kelasnya sendiri. Caca di sambut baik oleh sahabatnya, Erna. Caca tak pernah bercerita tentang hal yang selalu dialaminya setiap malam kepada siapapun. Erna pun tak pernah tau tentang itu. Seakan-akan, kejadian itu adalah hal yang sangat pribadi yang hanya bisa diketahui oleh Tuhan, Pasti ada Seseorang yang telah melakukannya untuk Caca. Caca percaya kalau itu bukan mimpi. Itu adalah kejadian nyata. Karena setiap malam ia ditemani cahaya sihir.
Seperti biasa, Erna melihat Caca melamun di balkon sekolah. Setiap Erna menanyakan Caca, “Kamu memikirkan apa, Ca?” Caca selalu berbohong, “Ah, tidak apa. Aku hanya memikirkan saudara-saudaraku di kampung.”
“Sudah kau telpon belum? Kan sudah ku bilang, telponlah mereka atau berkirim surat. Itu akan melepas kerinduanmu.”
“Sudah, tapi aku masih kangen. Ingin pulang kampung tapi uangnya belum terkumpul.” Sebenarnya Caca tidak tega berbohong pada sahabatnya sendiri. Tapi inikan tentang sihir. Dan sihir itu selalu rahasia. Seseorang dalam mimpinya pun pernah mengatakan, “janganlah kau beritau siapa-siapa tentang kekuatan sihir yang ada di dalam kamarmu ini ke pada siapapun. Jangan pernah, berjanjilah padaku dan aku akan senantiasa melindungimu.” Kalau sudah mendapat amanat, Caca tak segan-segan untuk menjalankannya. Dan ini adalah janji.
Kali ini Caca sangat mengharapkan bisa melihat siapa yang mengeluarkan cahaya di kamarnya setiap malam dan mengeluarkan bau sihir. “Ku mohon, beritau aku Ya Tuhan…” Malam ini Caca berencana akan tidur lebih cepat. Dengan pintu kamar yang terkunci rapat, kamar berantakan dan jendela yang terbuka lebar, Caca tidur sambil berharap bisa melihat seseorang yang misterius itu.
Ketika Caca sudah terlelap, tak lama kemudian aroma dan cahaya sihir itu datang. Kali ini ia dapat terbangun dari tidurnya dan melihat seseorang misterius itu. Ternyata itu adalah seorang peri biru yang cantik jelita. Ia sedang membereskan kamar Caca dengan sihirnya.
“Hah?! Si.. siapa kau? Apa kau yang selalu mengeluarkan sihir dan cahaya dikamarku setiap malam?” Tanya Caca terkejut.
“Namaku Moona. Aku adalah peri bulan yang ditugaskan Dewa Bulan untuk menjagamu di waktu malam. Akulah yang setiap malam merapikan kamarmu. Akulah yang setiap malam menjaga keluargamu dari kejahatan malam. Akulah penangkal mimpi burukmu. Sehingga kau selalu bermimpi indah di dalam tidurmu. Janganlah kau menceritakan tentang aku kepada siapapun. Hanya kamu manusia yang tau keberadaanku. Maaf kalau selama ini aku mengganggu tidurmu, Cahaya Syahwati Anggraini.” Jawab seseorang misterius itu.
“Kau tau namaku?” Tanya Caca keheranan.
“Tentu saja. Masa aku yang setiap hari menjagamu, tak tau namamu? Dengar-dengar kau punya impian terbang ke langit dan melihat bintang lebih dekat ya?”
“Iya! Kau tau sekali! Tolonglah, ajak aku terbang ke langit malam bersamamu.”
“Baiklah, tapi kau harus memejamkan matamu dan jangan beritau siapa-siapa tentang ini.”
“Asal impianku terwujud, aku mau!” kemudian Caca memejamkan matanya dengan hati gembira.
“Tenanglah, bayangkan jika kau mempunyai sayap dan terbang kelangit. Setelah itu, buka matamu.” Caca menuruti perintah Peri Moona. Ia lalu membuka matanya perlahan-lahan dan ia lihat dicermin bahwa dirinya mempunyai sayap yang indah dan besar. Dengan senang, ia langsung pergi keluar jendela dan terbang ke langit malam yang biru dan penuh bintang. Peri Moona menyusulnya di belakang. Caca menyentuh satu-persatu bintang yang ada di langit. Ia duduk di pangkuan bulan sabit bersama Peri Moona.
“Peri Moona, terima kasih telah mewujudkan impianku. Aku senang sekali bisa terbang, mempunyai sayap dan duduk di pangkuan bulan. Sekali lagi terima kasih.” Kata Caca sangat gembira. Peri Moona menjawab,
“Ya, aku senang kau senang. Tapi ingat Caca, kau hanya bisa melakukan hal ini satu kali dalam seumur hidup. Dan kau harus kembali ke ranjangmu sebelum matahari terbit. Jangan kau sia-siakan waktu ini. Tapi aku akan menjagamu setiap malam sampai kau bisa mengatur hidupmu sendiri.” Caca sedikit sedih. Ia langsung melanjutkan petualangannya di angkasa. Tak terasa matahari sudah mulai terbit dan Peri Moona mengantarkan Caca kembali ke kamarnya. Caca dibaringkan di tempat tidur, lalu Peri Moona mengecup kening Caca, “Sampai jumpa lagi, anakku.” Kemudian Peri Moona pergi meninggalkan Caca.
Caca terbangun dari tidurnya dengan hati riang gembira. Ia tak percaya dengan apa yang ia lakukan tadi malam bersama Peri Moona. Kini Caca tidak sering melamun lagi di sekolah. Ia menjadi anak periang. Tapi tetap saja ia harus menjaga rahasianya antara dia dan Peri Moona. Ia tak akan melupakan malam itu sepanjang masa.
“Caca, maafkan aku. Aku tak bisa membuatmu benar-benar terbang di angkasa. Karna kau di ciptakan dan di takdirkan sebagai manusia tak bersayap. Bukan peri bersayap yang dapat terbang. Aku hanya bisa mewujudkannya dalam mimpi. Syukurlah kalau kau senang. Aku tak akan memberitahumu kalau kau tidak benar-benar terbang semalam. Kau hanya bermimpi yang kau rasa itu adalah kenyataan. Maafkan aku Caca…” Kata Peri Moona dalam hati seraya memandang Caca dari langit.
No comments:
Post a Comment